"Tidak ada kalimat yang sempurna.Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna."
Dalam kisah ini, tokoh Aku pejantan tangguh tapi terobsesi dengan seorang penulis Amerika yang mati bunuh diri. Kekasih Aku gadis manis dan bersahaja tapi tak ragu-ragu menggugurkan janin dalam kandungannya, yang entah siapa ayahnya. Sobat kental Aku, Nezumi, anak hartawan tapi muak dengan kekayaan dan menenggelamkan diri dalam alkohol. Mereka bertiga melewati delapan belas hari yang tak terlupakan pada suatu musim panas di sebuah kota kecil di tepi laut.

Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an. Dengan ringan, Haruki Murakami berhasil menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tak memiliki bayangan ideal tentang masa depan. Novel pertama Murakami ini memenangi Gunzo Literary Award tahun 1979.


Begitulah tulisan yang dicatat di sampul belakang buku novel pertama Haruki-sensei. Novel pertamanya saja sudah mendapat award, maka tanpa berpikir panjang saya pun langsung membeli buku ini. Mungkin inilah novel terpendek dari Haruki-sensei yang ketebalan bukunya pun bila dibandingkan dengan novel lainnya tidak begitu tebal, hanya 119 halaman.

Melihat cover buku ini entah mengapa saya langsung teringat novel Life of Pi :) mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan. Perasaan tak tau arah dan mengambang di tengah lautan bebas yang dirasakan oleh si tokoh Aku ini. Sesaat merasa bebas berbuat sesuka hati tapi dilain saat menyadari bahwa masa depan adalah sesuatu yang samar dan tak berwujud.

Dari awal membaca sampai akhir, dengan plot dan cerita yang loncat-loncat, sepertinya Haruki-sensei terlalu royal dalam menuangkan idenya. Dalam satu tulisan ini terlalu banyak konten yang ingin dimasukkan oleh sang penulis hingga kadang saya yang membacanya kehilangan arah di beberapa tempat dan mulai kembali meraba-raba arah jalan ceritanya sambil menduga-duga ending ceritanya.

Terlepas dari apakah si tokoh Aku adalah si penulis (saya percaya kalau Aku adalah Haruki-sensei) saya merasa latar belakang cerita ini terlalu jauh dan diluar pengetahuan pembaca masa kini yang tidak akrab dengan musik dan bacaan yang diselipkan dalam cerita ini, terutama bagi pembaca yang bukan orang Jepang dan tidak tahu tentang Haruki Murakami. Sehingga ada moment dimana pembaca merasa 'lost' atau tersesat diantara deskripsi-deskripsi Haruki-sensei dalam novel ini.

Namun secara keseluruhan saya menikmati novel ini dan sebagai perkenalan terhadap karya-karya Haruki Murakami maka novel pertama ini cukup mewakili genre yang diusung oleh Haruki-sensei. Percayalah, karya-karya setelahnya jauh lebih baik dan lebih seru untuk dibaca juga plotnya lebih halus tanpa mengurangi ciri khas Haruki-sensei.

"Bagaimana bisa cahaya siang memahami kelamnya kegelapan malam."

0 comments:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda